Perbandingan Kebijakan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka: Dampak terhadap Kualitas Pendidikan

Penulis

  • Selamat Pohan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
  • Melandamayanti Melandamayanti Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
  • Ishak Kamaruz Zaman Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
  • Wajihan Nihaya Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

DOI:

https://doi.org/10.30821/lokakarya.v5i1.5362

Abstrak

mengatasi learning loss serta meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia di tengah tuntutan abad ke-21. Mengadopsi pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan analisis isi terhadap literatur sekunder (buku, jurnal, kebijakan Kemendikbudristek), kajian mengeksplorasi struktur, tujuan, metode pembelajaran, penilaian, serta dampak pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil menunjukkan K13 efektif membangun fondasi kompetensi nasional via KI-KD dan pendekatan saintifik, dengan peningkatan literasi, meski terhambat rigiditas RPP, kepadatan materi, dan penurunan retensi kognitif pasca-pandemi. Sebaliknya, Kumer superior melalui desentralisasi Capaian Pembelajaran (CP) berbasis fase, Projek P5, dan PBL, mencapai lonjakan partisipasi literasi-numerasi, empati, serta keterampilan motoric, selaras Profil Pelajar Pancasila dan Masyarakat 5.0. Kelebihan Kumer mencakup fleksibilitas kontekstual dan penilaian autentik, sementara kekurangannya adalah ketergantungan SDM, disparitas regional, dan subjektivitas deskriptif.

Referensi

Penelitian ini membandingkan kebijakan Kurikulum 2013 (K13) dan Kurikulum Merdeka (Kumer) dalam mengatasi learning loss serta meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia di tengah tuntutan abad ke-21. Mengadopsi pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan analisis isi terhadap literatur sekunder (buku, jurnal, kebijakan Kemendikbudristek), kajian mengeksplorasi struktur, tujuan, metode pembelajaran, penilaian, serta dampak pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil menunjukkan K13 efektif membangun fondasi kompetensi nasional via KI-KD dan pendekatan saintifik, dengan peningkatan literasi, meski terhambat rigiditas RPP, kepadatan materi, dan penurunan retensi kognitif pasca-pandemi. Sebaliknya, Kumer superior melalui desentralisasi Capaian Pembelajaran (CP) berbasis fase, Projek P5, dan PBL, mencapai lonjakan partisipasi literasi-numerasi, empati, serta keterampilan motoric, selaras Profil Pelajar Pancasila dan Masyarakat 5.0. Kelebihan Kumer mencakup fleksibilitas kontekstual dan penilaian autentik, sementara kekurangannya adalah ketergantungan SDM, disparitas regional, dan subjektivitas deskriptif.

Diterbitkan

2026-04-19

Terbitan

Bagian

Articles